Saat masa itu datang, “Saya tak tahu masa depan saya. Sebagai orang yang berhasil? Sebagai orang yang gagal tehadap cita-cita idealisme? Lalu tenggelam dalam waktu dan usia? Sebagai orang yang kecewa lalu mencoba menteror dunia? Atau sebagai orang yang gagal tetapi dengan penuh rasa bangga tetap memandang matahari yang terbit. Saya ingin mencoba mencintai semua. Dan bertahan dalam hidup ini.” (Soe Hok Gie, 26 Oktober 1968)
Dunia terus berdialektika dan terus menyempurnakan diri meski memang kadang dia menghancur tata kehidupan yang telah susah payah dibangun oleh leluhur kita.Tapi rupanya ini adalah kodrat sejarah, seperti kodrat seorang ibu yang harus melahirkan generasinya dengan susah payah.
Sejarah bergulir dari zaman masyarakat primitif, yang kadang ganas dan buas dengan hukum rimbanya, siapa yang kuat dia yang akan bertahan. Kemudian masyarakat tradisional, yang relatif terorganisir dengan mitos dan tradisi yang dibangunnya sendiri. Kemudian beralih ke masyarakat yang hidup di era beragama secara institusi, yang pejabat agamanya cenderung menggunakan simbol, doktrin dan pesan teks kitab suci untuk mengukuhkan kekuasaannya.
Di era ini, manusia kemudian tak perlu bertanya kenapa ada kemiskinan, sakit penyakit, kebodohan, sebab kitab suci telah menuliskan jawabannya yang hanya bisa diterima dengan kepercayaan yang buta, tanpa boleh dikalkulasi dengan rasio yang kritis. Negara kemudian menggandeng agama atau sebaliknya (simbiosis mutualis) untuk memperteguh kekuasaan di wilayahnya masing-masing. Sementara rakyat atau umat hidup dengan hanya mempercayai mitos, tradisi yang direkayasa rezim, dan doktrin yang kaku. Tapi, dari kondisi inilah justru lahir kesadaran untuk memberontak. Maka, akhir dari dominasi agama yang bersekokongkol dengan negara adalah kemerdekaan rasio. Zaman rasionalisme kemudian menggejala dalam peradaban dunia. Ini berkat tapi juga bahaya bisa berubah menjadi kutuk.
Bahwa, dengan pemberontakan ini, maka manusia kemudian menemukan wujudnya sebagai manusia yang bereksistensi, berpikir dan bergerak menentukan arah hidupnya. Tapi, kutuk akhirnya diciptakan oleh manusia itu sendiri, ketika kapitalisme yang lahir dari kesadaran sebagai manusia yang berpikir secara teknis tentang antara lain bagaimana memenuhi kebutuhan hidup, kemudian menciptakan lagi apa yang disebut imprealisme dan kolonialisme.
Dari situlah kemudian peradaban lain diukur, baik atau jahat, beragama atau kafir. Kekristenan yang benihnya bertumbuh di dunia timur, dan bernilai kasih dan pembebasan dengan injilnya, kemudian dibawa ke barat dan diformulasi sedemikian rupa, sehingga ketika dibawa ulang ke timur tampilannya menjadi arogan, tidak dialogis dan menjajah. Setralisme peradaban pun dimulai.
Bangsa barat, yang sadar betul dengan kekuatan ini, kemudian merambah dunia timur, dunia yang kaya dengan sumber daya alamnya, tapi dicitrakan sebagai dunia yang kafir, bodoh, tidak beragama. Proyek mereka seolah-olah adalah untuk mengagamakan dunia timur, tapi sebenarnya maksud terutamanya adalah penguasaan dan penundukkan. Penjajajahan terhadap tanah, identitas dan diri manusia pun dimulai. Tapi, dunia terus berdialetika. Muncul berbagai ideologi yang sifatnya melawan dan menentang. Kapitalisme dan imprealisme ditantang dengan komunisme, sosialisme, demokrasi dan berbagai bentuk lainnya. Di Indonesia, bahkan agamapun ikut bereaksi. Kaum muda waktu itu, yang kini adalah leluhur kita itu, siapapun mereka, dan apapun ideologi mereka telah tampil melawan imprealisme, kolonialisme dan sentralisme itu. Semangat mereka adalah satu, yaitu memperjuangkan kemerdekaan tanah dan hidup sebagai manusia merdeka. Inilah nilai, spirit dan makna yang ditinggalkan oleh mereka- mereka kepada kita, kaum muda, kini dan di sini.
Tapi, kapitalisme dan imprealisme hingga kini belum terkalahkah. Telah banyak cara untuk mengalahkannya. Ada masa di mana monster-monster (kapitalisme dan imprealisme) itu kalah, tapi ketika bangkit lagi, mereka bahkan lebih menyeramkan.
Dan kita, kaum muda di sini dan kini, bahkan harus berhadapan dengan wajah baru dari kapitalisme dan imprealisme itu. Institusi negara yang dulunya kita sembah dengan doktrin nasionalisme, justru telah takluk kalah dengan musuh peradaban itu. Negara bahkan serupa telah menjadi jari-jari keperkasaan dari monster-monster itu.
Buktinya, hingga sekarang negara kita masih bersoal dengan busung lapar dan gizi buruk akibat kemiskinan, perampasan hak-hak hidup, penggusuran, eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan tanpa mempertimbangkan efek ekologisnya, biaya kesehatan dan pendidikan yang mahal dan menguatnya fundamentalisme agama sebagai reaksi atas kelemahan negara dalam memediasi konflik dan lain sebagainya.
Sejarah dunia, ternyata adalah sejarah pertarungan manusia yang kuat dengan yang lemah, yang borjuis dengan yang proletar, yang penguasa dengan yang dikuasai (rakyat), yang menganggap diri paling suci dan yang dianggap kafir/berdosa, yang maskulin dan yang feminim, bahkan dulu pernah antara yang putih dan yang hitam.
Dan kita kaum muda, di sini dan kini, ada dalam keprihatinan terhadap pertarungan-pertarungan itu. Itulah sehingga kita berefleksi dan beraksi, berpikir dan bergerak. Maka, kaum muda adalah sejarahnya pembaharuan pemikiran dan pergerakan.
Dikutip dari : http://jongnusantara.blog.com/kaum%20muda/
